30/09/13

Cerpén~

Halo halo halo halo halo! *lambai kaki*

Udah lamaaaaa banget daku ga nulis di blog ini. Ya, resiko sebage murid ajib, tugas tugis terus menghantui .. fiyuuh fiyuuuh~

Nah! Kali ini, daku iseng-iseng buat ...





























                                                                      





                                                                  



















.......
....
...
..
.


.......
....
...
..
.
Lubang jigong.
Well, mungkin diantara kamu kamu semua udah ada yang baca tulisan ini di tempat yang laen .. tapi ga salah kan, ngepost karya ajib di blog? yegak? yegak? *endus endus*

Selamat bakyak! Kalo gamo baca .. Pa'ilah!

Akhir Cerita
Oleh: Yang punya blog ini.


           Sore hari yang mendung, hujan mengguyuri kota dengan derasnya. Ku teguk secangkir teh panas dan menikmati suasana sekitar. 

          Ku sadari bahwa jam telah menunjukkan pukul 17.45 dan aku harus kembali ke apartemen. Aku hanyalah lelaki sederhana, yang tidak hidup berlimpah dan sebagainya. Awalnya, semua ini berasa damai dan tenang, hingga suatu malam .. semua ini berubah.

         Sepi senyap malam itu. Ku terduduk diam mengerjakan skripsi dan melakukan beberapa penelitian dengan laptopku. Sebelum aku sempat mematikan laptop, handphone ku bergetar dan bertuliskan “1 New Message”. Kubuka pesan itu, dan aku bingung. Surat ini tak tercantum nomor pengirim. Pesan itu berisi:
“Besok, misimu akan dimulai..
 Pergilah ke kedai kopi dekat rumahmu, jam 10 pagi..
 Temui aku disana ..

                                                                                 –
anonymous”
Tak ada emoticon dalam penulisan. Hiii ....

“Anonymous? Ini artinya apa?” dengan polosnya aku bertanya. Ku mencari di kamus dan kutemukan artinya. Pikiranku tebagi menjadi dua, fokus untuk mengerjakan tugas dan tentang si mas Nimus misterius ini. Karena merinding, aku mematikan laptop dan langsung menuju ke kasur untuk tidur.

“Dor! Dor! Dor!” … begitulah alarmku berbunyi. Aku terbangun dan hendak mematikan alarm. Tangan meraba-raba meja, merasa  ada yang aneh, aku melihat tanganku yang meraba-raba. Ku melihat tanganku memegang sebuah pistol dan bukan alarm. Setengah sadar aku berkata “Pantes aja, alarmnya ga mati” ..  ku tembak alarm yang bersisik itu dengan pistol .. “Mbeek!”. Alarm pecah berhamburan di lantai. Untung aja pistol itu berperedamisme, jadi suaranya tidak begitu menggelegarisasi dan gak harus imunisasi. (?)

Terkejut sendiri saat menembakkan pistol itu, dan akhirnya siuman itu hilang. “Ecekupret! .. ini pistol beneran! Tunggu, ini pistolnya siapa ya?” kataku. “Ada apa ini?” gundah, bingung, terkejut .. semua menjadi satu. Sejenakku melihat keluar jendela, sekedar untuk menghirup udara, tapi malah bikin sesek nafas. Miris.

Terdapat seorang pria melihatku dari kejauhan. Lelaki paruh baya ini memakai jas hitam, celana kain .. kafan, berdasi putih dan bersepatu kulit hitam, serta memakai topi ala Al Capone. Dia berdiri di seberang jalan dan memandangiku dengan pandangan tajam, saking tajamnya, hidungku mimisan. Saat aku berkedip, pria itu sudah hilang dari pandangan. “Gue gamau pedophile” pikir gue.

Handphone-
ku bergetar. Lagi-lagi terdapat sebuah pesan masuk. Pesan itu berisi:
“Jangan lupa..
 nanti ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu :3
 
                                                                               
                                                                                        – anonymous”
Titik. Dua. Tiga. Ngeri.


Setelah kejadian itu, aku lekas membersihkan diri dan berganti pakaian. Menuruni tangga menuju garasi, dan dipertemukan dengan Ibu Peri.  Dia berkata:
“Heii.. kamuh, ayo ikuti akuh~” 
“Baik Ibuh~” *air ngences berlinang*  
 :: #NowPlaying Haddad Alwi – Ummi ::


Dengan sadisnya, Ibu peri mengikatku dengan rambut keteknya, membuat daku menangis sepanjang jalan, dan memberikan efek dramatis. 

“Anakku kita diserang nagah nagah~” 
 “Akan kulempari jigong mereka~”
      Setelah pelemparan jumroh kepada makhluk biadab dan bertsilahturahmi dengan Raden Kian Sinting, akhirnya kami sampai juga di Terminal.
“Ibuh, ini bukan tempat yang kutuju~”  
“Siapa kamuh?”
Lalu ibu itu melantarkanku. Sumveh, kam-.. kamvret terbang. 

        Daku berjalan, mengesot, merayap, melata, siang dan malam, dari musim duren sampe musim nyamuk, dari pagi sampe paginya pagi. Hingga akhirnya .. daku sampai .. di pangkalan ojek deket terminal. Lalu gue naik ojek dan ngacir ke kedai kopi.

 Sesampainya disana, aku memesan secangkir kopi susu dan duduk di bagian luar kedai, berjaga-jaga bila ada sesuatu, aku bisa langsung kabur dari tempat itu. Sekitar 15 menit aku menunggu, jam menunjukkan pukul 10.05. Kulihat sekeliling dan dibalik kerumunan, aku melihat pria yang tadi pagi memandangiku. Ia berjalan ke arahku dan duduk di depanku.

Dia menutupi mukanya dengan sapu tangan. Mungkin saja orang ini sedang kena flu atau menutupi identitasnya. Dia menghela nafas dan dengan suaranya yang serak, ia mulai bicara.
“Moekhrek khrekk argh.. mbek gukguk .. ooeek!” *uhuk uhuk hwaaatcheeeng!!*

Ternyata salah, bapak ini rabies. Dia menatapku kembali dengan muka lebih serius. Suasana kembali menegangkan.


“Mungkin kamu masih bingung dengan tujuanmu ke sini, betul?” 
“I-iya pak, tapi boleh saya be-“ 
“Kau bawa pistol yang kau temukan pagi ini?” 
“Ini di dalam tas saya, dan pak .. kalau bo-“ 
“Pintar kamoe .. jadi begini … bla bla bla..”
“Ini bapak. Belum sempet nanya, udah nyela duluan” pikirku. Dengan merdunya bapak ini bercerita panjang lebar tentang cerita yang tak bisa aku pahami. Lalu dengan cepat aku keluarkan pistol dari tas dan melemparnya ke kepala si bapak itu dan membuatnya menjadi pingsan. Lalu aku bisa lari dengan girang terbebas dari batuk dan ocehan bapak-bapak mafia itu. Tapi tentu saja, hal barusan merupakan suatu khayalan belaka.

Aku kembali memperhatikan ucapan si bapak ini. Ia mengatakan bahwa dia berasal dari masa depan dan hari ini, pukul 16.00 akan terjadi sebuah tragedi. Wow.

         Akan terjadi pengeboman pada sebuah SPBU terdekat. Jidatku mengkerut, kepalaku manggut .. manggut .. manggut .. lalu ketiduran. Kemudian ditampar.


“Sekarang kau mengerti kan? Nah, aku butuh bantuanmu ..”

“Tapi pak, mengapa anda memilih saya? Mengapa tidak orang lain yang lebih .. anda                  taulah .. lebih berpengalaman tentang hal ini”

“Karena sebenarnya, kau ini memiliki kemampuan dalam bertarung dan tampangmu                  ini tidak mudah dicurigai”

Dalam hati, aku merasa bangga dan kecewa, “Emang muka saya separah itu ya pak?” tanyaku polos.

“Aku ingin kamu menghentikan tragedi itu, maafkan aku. Aku tak punya waktu banyak, aku harus kembali ke masaku. Tolonglah nak. Karena di masa depan, hanya engkaulah yang selamat”


”Bagaimana bisa aku menghentikannya?”

        Dia terdiam dan hanya berkata “Semoga beruntung, semua ini bergantung padamu”. Ia berdiri dan meninggalkan ku sendiri di meja itu. Tertinggal sebuah robekan kertas bertuliskan:

“Berpakaian sebagai petugas SPBU, berjalan bungkuk, berkulit hitam, berkacamata hitam .. lihat ke depan dalam hitungan 3 .. 2 .. 1”

Aku mengikuti perintah surat ini dan benar, orang yang diciri-cirikan oleh surat ini berjalan tepat di depanku. Dia gelap! Entah darimana, bapak mafia tadi bisa meramalkan bahwa ini akan terjadi. Dan aku makin percaya bahwa dia benar-benar seorang mafia mentalis dadakan di masa depan. Aku menunduk kembali dan membaca surat itu.

“Dia targetmu. Habisi dia, jangan menarik banyak perhatian”.

      Layaknya Ezio Auditoré dan Sherlock Holmes, ku ikuti jejaknya dan ku pelajari gerak-geriknnya dengan menyamar pada kerumunan. Nyamar jadi tiang lampu, semak-semak, mobil, gajah, capung sampe jadi Nyamar Jr.

      Kulihat dia sedang membawa sebuah kotak kayu besar dan dia menaruhnya di sebuah ruangan penuh dengan Tabung Gas. Awalnya aku pikir kalo dia suka minta-minta. Kan cocok gitu mukanya kayak orang aring dan ... LAANJUUUT!

Tanpa baca pidato, ku dekati dia perlahan dan ku siapkan pistolku. 



*GUBRAAK!*

“Angkat kaki!”


“…”

        Ku berusaha untuk mem – bekuk – nya tapi dia masih melawan. Remote pengendali terlepas dari genggamannya dan terlempar ke pintu. Aku berlari mengejar remote itu dan saat aku berbalik menghadapnya, dia memegang pistol dan membidiknya ke arahku. Ternyata selama ini, pistolku terjatuh dari celana saat aku mengejar remote itu ..  Dan …

“Dor! Dor! Dor!”

        Aku terbangun dari tidur. Ternyata semua itu hanyalah mimpi. Seketika ku teringat dengan bapak-bapak mafia itu, entah kenapa, padahal dia bukan bidadari cantik nan indah yang biasa kudambakan. Dengan cepat, aku melihat suasana diluar jendela namun, aku tak menemukannya sejauh mata memandang. Pandangan ku alihkan dan ku lihat meja disebelah kasurku. Pistol itu tepat berada di sebelah alarmku seperti yang ada di mimpi, dan untuk saat ini, alarm yang aku lihat tidak hancur berlebur-lebur dan berserakan di lantai.   

Handphone bergetar. Ternyata bapak-bapak mafia itu lagi, hanya saja kali ini berbeda..

“Kau sudah tau ceritanya .. sekarang tugasmu untuk memberikan akhir cerita yang                   indah.”

Daku seringai dan kubalas..

“déjà vu!”

Singkat cerita, aku mengulangi langkahku seperti di mimpi, tapi kali ini kugunakan motto para lelaki ketika ingin memenangkan hati perempuan, eng i eng ..

“Udah, tembak aja!”

Dengan begitu aku bisa mengakhiri ini dengan cepat. Kusiapkan pistolku dan membaca bismillah.


“huuuhh… huuuhhh.. oke.. kamu bisa .. 1 .. 2 ..3” 

*GUBEEERRAAAAKKK!!!*

“Hey!”

*DOR!*

“…”

        Ternyata hal ini lebih cepat daripada yang ku bayangkan. Seperti di film-film action, akhiran selalu diiringi dengan tokoh utama yang telah memerangi kejahatan dan berjalan Slow Motion lalu dibelakangnya terdapat sesuatu yang meledak. Akupun juga begitu, hanya saja tidak ada yang meledak. Miris.

           Daku berjalan menuju kantor polisi untuk melaporkan keadaan. Dengan gagahnya aku berjalan Slow Motion keluar dari ruangan, kibas kumis dan rambut hidung, pasang kacamata hitam, gelap, lalu kesandung. 

“Orang itu kok jalannya pelan banget ya?” 

“Huuwaaauuhh~”

-Gerangan orang-orang yang melihatku-

           Sebelum aku sempat mendekati kantor polisi, aku lihat bapak-bapak mafia itu berjalan ke arahku. Dengan cepat ia mengeluarkan pistol dari topinya, dan melemparnya ke arah kepalaku. Aku melihat bapak itu lari kegirangan dan meninggalkan aku di pinggir jalan. Dan akhirnya aku …

“Dor! Dor! Dor!”

       Aku terbangun dari tidur. Ternyata semua itu hanyalah mimpi. Dan kau tahu? Ini merupakan akhir cerita yang indah karena … gue gajadi pedohile.


-Tamat-


----
Gimana? jelek? bagus? keren? biasa aje? ngebosenin? bikin ilfeel? bikin galau? bikin pusing?

Well, apapun itu .. makasih yak udah baca :D 

Kalo bisa, kasih nilai di komen yak~

Wep, saatnya gue untuk terbang lagi dan nyari inspirasi.. I guess I'll see ya later then. Daaa~~

*lambai ginjal*

Tidak ada komentar: